Bapak Dan Ibu yang kami Hormati,
Rangking anak-anak atau peserta didik di sekolah kerapkali dijadikan acuan sebagai indek prestasi anak. Selama ini acuan tersebut masih berlaku untuk menegaskan kecerdasan anak di sekolah.
Benarkah acaun rangking bisa dijadikan parameter untuk menilai kelebihan anak ?
Secara teori kemungkinan bisa dan sangat mudah karena acuan sangat teknis. Hasil ujian sebagai bahan dasarnya untuk menilai dan memastikan peringkat anak.
Persoalannya adalah proses belajar mengajar adalah bukan serta merta mencari nilai !!!
Inilah masalah pelik di bangsa Indonesia yang masih memuji penilaian akademik dengan sistem kuantitatif atau sistem angka.
Pendidikan adalah proses panjang bukan seperti mencetak sebuah barang. Artinya nilai pendidikan harus ada dua penilaiann yang berbeda seperti nilai akademik atau nilai teknis pemahaman tentang sebuah ilmu melalui ujian dengan sistem angka.
Yang kedua penilaian tentang non teknis atau di luar akademik.
Peserta didik belajar tidak hanya tentang akademik semata. Masih ada pelajaran lainnya di luar akademik seperti pengembangan bakat dan minat.
Kedua adalah potensi anak terbesar yang bisa dikembangkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah. Minimal orangtuanya turut serta membantu meningkatkan kemampuan anak-anaknya.
Inilah tugas penting bersama bagi orang tua dan bapak dan ibu guru bahwa apakah kalau rangking terendah adalah tidak berkualitas dibandingkan dengan rangking nomor satu.
Masa depan anak bukan ditentukan oleh rangking namun oleh banyak hal seperti pengalaman, psikologis, komunikasi, kasih sayang dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar